Kamis, 31 Oktober 2013

Raja Dan Rakyatnya

          Dalam sistem kepemimpinan Tolaki, seorang Raja ( mokole ) sebelum  memangku jabatannya, ia tinotonao (di sumpah ) oleh seorang tono motu'o  ( seorang sesepuh pemangku adat ) dalam fungsinya sebagai mewakili rakyat keseluruhannya di hadapan sidang pelantikan, yang di hadiri oleh segenap apartur kerajaan yang telah di sebutkan di atas, yaitu :  siwole Mbatohuu.,  Pitu dula batu,  tolu mbulo anakia Mbutobu, dan tolu etu la ' usa
      
    Berikut ini  inti dari sumpah  bahwa " ....ia akan mentaati adat dan hukum yang berlaku,  dan sebaliknya rakyat bersumpah akan mentaati segala kebijaksanaan dan perintah Raja. Apabila Raja melanggar adat dan Hukum yang berlaku maka Jahelah  yang  akan memanaskan  nyawanya, besilah yang  akan memoton lehernya dan tanahlah tempatnya di kuburkan, sebaliknya jika lau rakyat yang melangar kebijaksanaan dan perintah Raja maka kemiskinan, kepapaan dan kepunahan yang akan menimpa mereka.... "    Disini tampak gejala adanya hubungan struktural dan fungsional antara  Raja dan Rakyatnya, suatu suatu Politik Kontrak (perjanjian politik dengan pemerintah ). Raja akan brhasil mewujudkan tjuan kepemimpinannya apabia taat terhadap pula Rakyat akan menjadi makmur dan sejahtera apa bila  mentaati kebijaksanaan dan perintah raja. Raja diperlakukan oleh Rakyatnya laksana Matahari, yang mampu memancarkan sinar keberkahannya ke seluruh penjuru negeri dan segenap penduduknya. Melalui keberkahannya  yang ada pada seorang Raja, rakyat mendapatkan berkah dari allah SWT, karena raja di pandan sebagai wakilnya di bumi, Permaisuri (Isteri Raja ) di pandang orang Tolaki sebagai yang memancarkan sinar rayuan cinta dan kasih sayangnya ke seluruh penjuru negeri dan rakyatnya sebagai anak negeri. Sedangkan putra - putri Raja adalah laksana bintang-bintang yang bertaburan di langit di waktu malam. Mereka di pandang sebagai putera - puteri mahkota kerajaan, yang akan eneruskan pucuk kepemimpinan negeri kerajaan. kita seringkan ungkapan - ungkapan seorang pemangku adat, ketika ia menghadap Raja, Permaisuri, yang di kelilingi oleh putera - putrinya, 


Katanya : "....iee inggomiu mberi'ou sangia, mata oleo, mata wula, ana wula.....( maksudnya : wahai engkau  yang  di pertuan Agung,   Dewa, Matahari, Bulan, Dan Bintang - bintang..)  ---Abdurrauf Tarimana, Seri Etnografi ; Kebudayaan Tolaki (Jakata : Balai Pustaka, 1993, hlm. 89 -----


          Mereka juga memandang seorang raja sebagai pu'uno okasu ( kayu pokok, pohon besar tempat berlindungnya rakyat )  sebagai petumbono olipu  ( Tiang agungnya Negeri ),  Ponggorahino wonua  (  kayu pokok, pohon besar  tempat  berlindungnya Rakyat ), sebagai Petumbuno Olipu....( Tiang Agungnya Negeri ),...Ponggorahino wonua ( tokohnya Kerajaan ), Pu' u Wuta ( pokoknya batu yang agung, maksudnya  sumber kekuatan rakyat )
          Sebaliknya raja memandang rakyat sebagai rome-romeno wonua ( sumber kesuburan, kemakmuran, kesejahtraan negeri), maksudnya bahwa rakyatlah yang berfungsi dalam memproduksidalam bidang Ekonomi. Tanpa Rakyat adalah mustahil bagi negeri itu menjadi sejahtera, termasuk didalamnya raja dan keluarganya, serta seluruh aparat kerajaan, abdi negeri, dan abdi masyarakat. Mereka juga di pandang oleh raja dan aparat negeri sebagai wuta mokoran wonua , (potensi kekuatan pertahan Negeri) dalam menghadapi segala macam musuh, baik dari luar maupun dari dalam negeri, demi kesejahtraan dan keselamatan Negeri dan Rakyatnya, dalam kehidupannya, maka Mokole (Raja) harus banyak berdoa, bersemedi, berdzikir kepada Allah SWT, agar rakyatnya senantiasahidup tentram dan damai. Bila ternyata rakyat disuatu negeri, kata orang Tolaki, sering fitnah, timbul wabah penyakit, panen tidak jadi, maka hal itu berarti raja tidak betul, artinya sudah lupa tugas dan kewajibannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar